Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label artikel. Tampilkan semua postingan
MANUSIA DICIPTA SEBAGAI MAKHLUK PEKERJA
oleh Nasokhili Giawa[1]

Tatkala mengamati dan mencoba membedah pidato perdana Presiden Joko Widodo pascadilantik sebagai Presiden RI ke-7 pada tanggal 20 Oktober 2014 yang lalu, ia sangat menekankan dimensi kerja atau kerja keras. Saking seriusnya, ia berulangkali mengucapkan kata kerja, kerja, dan kerja dalam teks pidato tersebut.  Jargon “kerja” atau “kerja keras” yang disampaikannya tidak sekadar slogan belaka dari sang Presiden tetapi telah menginternalisasi di dalam jiwanya karena dilakonkan secara konsisten. Ia berharap agar kebiasaan ini tertular kepada orang-orang yang dipimpinnya, tertular kepada para pejabat, tertular kepada para elite, tertular kepada seluruh masyarakat tanpa terkecuali.
        Bagi sebagian orang, kata “bekerja” atau “bekerja keras” terkesan biasa saja, dangkal, dan membosankan. Namun, mesti dipahami bahwa kandungan nilai dari kata ini sangat luas.  Pada paragraf pertama dari pidato sang Presiden menyentuh hubungan erat antara sumpah dengan komitmen kerja keras. Ia juga menghubungkan antara beban sejarah yang mahaberat pun dapat ditempuh dengan solusi bekerja keras. Yang paling menarik adalah ketika mengajak dan menyerukan kepada seluruh anak bangsa dari berbagai kalangan dan dari berbagai latar belakang suku, agama, ras, etnis, budaya, dan profesi agar bergerak bersama-sama untuk bekerja.  Singkatnya, ia memberi nilai urgen pada faktor bekerja dengan tulus dan sekeras-kerasnya untuk mencapai masa depan peradaban yang terhormat.
Pada saat pelantikan para menteri, Presiden Joko Widodo juga menggarisbawahi tentang betapa urgennya bekerja.  Tidak mengherankan bila ia menyebut kabinet yang dipimpinnya sebagai kabinet kerja (working cabinets). Ia sadar betul tentang nilai dan space waktu (time bounded) yang tersedia untuk bekerja memimpin – yang begitu singkat.  Dalam konteks waktu inilah, ia menyatakan bahwa lima tahun ke depan menjadi momentum sejarah yang tepat sebagai bangsa yang merdeka; sebagai bangsa yang makmur, adil, dan sejahtera.

Bekerja Sebagai Mandat Ilahi
Kitab Suci Alkitab meletakkan dasar yang sangat kuat tentang betapa pentingnya kerja.  Setelah peristiwa kejatuhan manusia ke dalam dosa, Tuhan berfiman kepada Adam dengan berbunyi, “... dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu ... dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu sampai engkau kembali lagi menjadi tanah ...”.  Unsur-unsur yang terkait dalam pernyataan kebenaran ini, sebagai berikut: Pertama, bahwa semua manusia harus bekerja. Itu merupakan konsekuensi logis dari kejatuhan manusia ke dalam dosa.  Kedua, bahwa untuk bisa bertahan hidup mesti berusah payah.  Tidak ada yang mendapatkan rezeki bila tidak bersusah payah. Di luar batas ini akan cenderung korup bahkan dapat melanggar aturan hidup dan kehidupan.  Ketiga, bahwa untuk mendapatkan rezeki, mesti berpeluh (berkeringat).  Berkeringat merupakan indikator utama dalam dimensi kerja walaupun tidak selamanya orang yang berkeringat dapat disamakan dengan bekerja.  Dalam konteks berkeringat dalam pengertian yang sesungguhnya menunjukkan sikap serius yaitu sikap yang sungguh-sungguh bekerja bahkan menanggung konsekuensi logis sampai pada tingkat berkorban dan rela menderita sakit. Kebenaran ini menyentuh hakikat kerja yang tidak terbantahkan oleh teori mana pun. Tindakan absen menerjemahkan kebenaran ini menyebabkan persoalan serius yang berakibat buruk kepada diri sendiri, keluarga, masyarakat, bahkan bangsa dan negara.
Jansen H. Sinamo yang dijuluki sebagai “Guru Ethos Indonesia” dalam bukunya “8 Etos Kerja Profesional: Navigator Anda Menuju Sukses” menyatakan bahwa “Manusia sebagai makhluk pemburu sukses mengejawantahkan tujuan tersebut melalui kerja. Namun, tanpa konsep sukses pun sebenarnya manusia selalu bekerja karena secara hakiki manusia adalah makhluk pekerja” (2005:247).  Apa yang dipikirkan dan dirumuskan oleh Sinamo memperjelas kebenaran Kitab Suci bahwa manusia harus bekerja untuk kelangsungan hidup dan kehidupan.

Filosofi Kerja dan Peradaban
Para penemu telah memperlihatkan betapa pentingnya bekerja keras.  Tidak ada temuan spektakuler tanpa kerelaan bekerja.  Tidak ada temuan untuk mengubah wajah peradaban bangsa tanpa kerja keras.  Para ilmuwan kontroversial, seniman besar, dan para pemikir terkemuka sejak zaman renaisans telah melahirkan banyak ide kreatif yang memaslahatkan semua umat manusia di bumi ini.  Pada masa mereka, anggapan orang kebanyakan menduga dan menuduh mereka seperti orang gila bahkan kadang disebut ‘gila.’ Hal ini wajar karena ide mereka adalah ‘gila.’ Hal wajar pula karena memang di luar rasio orang kebanyakan. Tetapi, jangan dipertanyakan apa tujuan mereka.  Jangan dipertanyakan jangkauan penemuan mereka. Tujuan mendasar adalah untuk segenap hidup dan kehidupan umat manusia di seantero jagad raya baik untuk generasi masa kini maupun generasi yang akan datang. 
Tokoh-tokoh penemu besar dunia telah membuat kita tercengang.  Thomas A. Edison merupakan salah seorang penemu berkebangsaan Amerika yang paling cerdas dan berpengaruh di sepanjang zaman.  Sekalipun ia hanya bisa dikategorikan sebagai baru mengecap pendidikan 3 tahun saja (yang dapat disejajarkan dengan kelas 3 SD), namun ia dapat mengubah dunia gelap menjadi dunia terang.  Pencapaian Thomas A. Edison tidak ditemukan tanpa pengorbanan; tidak ditemukan tanpa berkeringat.  Ribuan kali percobaan telah ditempuh tanpa lelah.  Ia tidak berhenti sebelum keberhasilan itu menjadi kenyataan. Alhasil, bohlam lampu dan aneka hiburan di rumah kita adalah hasil kerja keras yang merupakan mahakarya Thomas A. Edison. 
Para penemu kelas dunia yang bekerja keras siang dan malam tidak mengenal lelah bahkan terkesan tidak peduli terhadap kehidupan dan jiwa mereka. Marie Curie (1867), seorang ahli kimia, tokoh perempuan -- yang bersama dengan suaminya, Pierre Curie, adalah peneliti perintis dalam bidang radioaktif untuk kemanusiaan.  Menurut catatan sejarah, mereka memenangkan dua Hadiah Nobel yang merupakan kebanggaan, namun tidak memperoleh keuntungan harta kekayaan dari penemuan spektakuler mereka. Tragisnya, pekerjaan yang selama ini ditekuni, justru itulah yang menewaskan mereka. Tokoh lain adalah Bill Gates. Bill Gates telah mengubah cara kita melihat dunia.  Ia menjadi inspirator bagi kita terutama para tokoh komputer di seluruh dunia.  Dalam biografi Bill Gates diceritakan bahwa untuk membuat Hard Drive yang ia geluti selama bertahun-tahun, ia pernah tidak tidur selama seminggu tanpa henti sampai pada akhirnya ia jatuh tertidur memeluk komputernya saat ia telah mencapai tingkat puncak dari penemuannya.  Kisah-kisah kehidupan para tokoh ini berawal dari upaya dan kerja keras. 


Nilai Kerja dan Kebahagiaan
Umumnya, bekerja bertujuan untuk memenuhi standar agar dapat hidup layak (terpenuhinya nafkah/kebutuhan pokok). Dalam teks-teks Kitab Suci Alkitab berulangkali menyentuh aspek dari nilai kerja itu sendiri.  Banyak tokoh Alkitab memperlihatkan kegigihan mereka untuk bekerja sehingga mereka berbahagia. Kisah kehidupan pribadi Yakub misalnya, memperlihatkan keuletan dan kegigihannya bekerja kepada mertuanya, Laban. Disebutkan bahwa ia bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan, cita-cita, dan masa depannya.
Kitab Amsal Salomo menyadarkan kita tentang filosofi kerja yang mesti jauh dari pengaruh kemalasan bahkan diperintahkan untuk belajar dari ilmu semut. Anjuran agar kita belajar kepada semut memuat nilai tentang apa yang disebut dengan bekerja. Tentu saja, orang normal akan “tersinggung” dengan anjuran belajar dari semut yang notabene adalah makhluk rendah. Namun, faktanya tidak bisa dibantah bahwa sesungguhnya manusia telah banyak lalai.  Filosofi semut adalah bagian yang tidak terpisahkan dari hukum hidup yang mengedukasi kita agar bekerja ulet, bekerja maksimal, bekerja pintar, bekerja cerdas, berjiwa sosial, berjiwa investatif, berjiwa futuris, dlsb.
        Rasul Paulus dalam beberapa tulisannya, ia menegaskan tentang pentingnya bekerja.  Bagi dia, bekerja adalah kehidupan. Bila tidak bekerja akan mengganggu kehidupan. Karena itu, dengan bahasa sarkastis menyatakan bahwa “bila seseorang tidak mau bekerja, jangan diberi dia makan”. Perkataan ini masih relevan dengan kondisi kita pada zaman ini. Artinya, harus bekerja guna mendapatkan makanan.  Mendapatkan makanan karena bekerja merupakan jalur halal dan terhormat. Booker T. Washington, mantan budak, tokoh masyarakat Negro menyatakan, “Semua pekerjaan yang dilakukan dengan baik dan tulus adalah pekerjaan yang terhormat”. Diluar dari jalur ini adalah jalur instan, jalur haram, jalur potong kompas yang bermental koruptif. Inilah yang sedang tertuai dan ‘membudaya’ di negara kita yang mesti direvolusi.
Alam Indonesia yang kaya raya adalah anugerah Ilahi. Potensi alam yang melimpah ruah sesungguhnya adalah sumber kebahagiaan.  Kondisi alam inilah menyemangatkan seluruh anak bangsa untuk berani bekerja menaklukkan, mendayagunakan, dan mengelolanya guna meraih kejayaan.  Dengan dasar ini, kita dapat menyatakan bahwa tidak ada lagi tempat bagi orang-orang yang berlindung di balik slogan pengangguran dan kemiskinan. Kitab Suci Alkitab tidak mengenal dan tidak merestui pengangguran. Terminologi pengangguran dan kemiskinan adalah keliru dan cenderung pembodohan. Muatan sesungguhnya adalah karena kemalasan. Karena itu, tidak ada tempat bagi pengangguran dan kemiskinan karena manusia dicipta dengan natur-konstitusional yang memadai – yang memampukannya untuk bekerja keras, berinovasi, dan berpikir kreatif sehingga melahirkan ide-ide spektakuler melalui karya nyata bagi terciptanya kebahagiaan. Salam kerja.




[1]Dosen Tetap/Wakil Ketua II Bidang Adum & Keuangan STT Jaffray Jakarta; Pemerhati Spiritualitas.
BAGAIMANAKAH KEPEMIMPINAN KRISTEN ITU BERPROSES[1]
Oleh Nasokhili Giawa[2]

        Kepemimpinan adalah kenyataan yang tidak dapat diabaikan karena kebutuhan semua orang.  Karena kepemimpinan merupakan kebutuhan semua orang dan bersifat urgen, mau tidak mau – suka ataupun tidak suka, akan digiring untuk menetapkan sikap pada dua pilihan yaitu: dipimpin atau memimpin.  Setiap orang memiliki peluang yang sama.  Tentu, dalam perspektif kepemimpinan mana pun, ada yang memimpin dan ada yang dipimpin.  Kualitas hubungan timbal balik yang mutual antara pemimpin yang yang dipimpin (followers) ditentukan oleh sejauhmana memahami peran dan fungsi masing-masing pihak.
Banyak definisi dan rumusan tentang kepemimpinan.  Mulai dari definisi sederhana sampai pada definisi kompleks.  Pada prinsipnya, semua definisi kepemimpinan manapun juga bermuara pada unsur pengaruh sehingga kepemimpinan adalah hal mempengaruhi untuk sesuatu tujuan. Namun, jangan sampai salah interpretasi – karena tidak semua pengaruh adalah kepemimpinan.
Alan E. Nelson dalam bukunya “Spirituality & Leadership” (Kerohanian dan Kepemimpinan) menyatakan bahwa “Kepemimpinan adalah proses sosial di mana orang-orang mempengaruhi individu-individu sehingga mereka dapat mengatur dan membantu orang-orang itu mencapai apa yang tidak dapat dicapai kalau tidak demikian.”[3]  Definisi ini menggarisbawahi tentang, Pertama, kepemimpinan menggumuli hubungan orang-orang yang bekerja sama untuk mencapai tujuan yang sama.  Kedua, kepemimpinan tidak begitu menekankan pada apa yang dicapai, tetapi pada bagaimana hal itu dicapai.  Upaya yang dapat ditempuh untuk mencapai sasaran dapat melalui kinerja individu, proses pengelolaan, atau sarana-sarana yang disiapkan dengan sengaja.  Ketiga, tokoh sentral dalam kepemimpinan adalah pemimpin.  Pemimpin adalah orang yang mampu melihat dan mengemukakan visi, melakukan perubahan dengan cara menyelaraskan orang-orang dengan sumber daya, dan mengatur orang-orang maupun sistem-sistem untuk mencapai sasaran secara terintegrasi.
Percakapan tentang kepemimpinan tetap menjadi topik menarik dan tetap relevan di sepanjang zaman dan waktu.  Tentu, topik ini sangat luas karena kajiannya kompleks.  Saya ingin mendekatkan penalaran kita pada bagaimana kepemimpinan Kristen dari sudut pandang praktis.  Ada tiga unsur yang perlu dipertimbangkan sehubungan dengan topik ini, Pertama, Siapakah Pemimpin dalam Kepemimpinan Kristen itu?  Kedua, Bagaimana Karakter Dasar bagi Kepemimpinan Kristen? Ketiga, Bagaimana Kepemimpinan Kristen itu Berproses yang dirangkai dengan Konklusi.
I.     Siapakah Pemimpin dalam Kepemimpinan Kristen itu?
Ketika mendefinisikan tentang siapa pemimpin itu, tentu banyak jawaban yang disertai dengan sejumlah alasan.  Benny J. Iskandar dalam bukunya yang berjudul, “Management According to the Bible” menyatakan bahwa pemimpin adalah “Seseorang yang mempunyai wewenang dan kuasa dengan mengarahkan dan mempengaruhi secara kreatif, emosional, dan rasional yang terbuka, kepada para pengikutnya untuk melakukan kegiatan-kegiatan organisasi demi tercapainya sasaran, pengembangan organisasi dan tujuan akhir di masa depan”.[4]  Bagi Dr. Eka Darmaputera, pemimpin dalam konteks teologis adalah TUHAN (huruf besar).  Ia memastikan bahwa “God is the Leader, not merely a leader.”[5]  Lebih jauh, ia menjelaskan bahwa seluruh konsep kepemimpinan Kristen bertumpu pada asas yang satu ini.  Sebab kita hanya mempunyai SATU PEMIMPIN saja, yaitu DIA, dan DIA-lah satu-satunya yang mutlak, maka yang lain pun menjadi relatif, tidak ada yang mutlak.  Yang lain adalah pemimpin-pemimpin yang dalam huruf kecil.  Artinya, yang menjadi pemimpin bukan oleh karena otoritas yang berasal dari diri sendiri, melainkan dari Dia semata-mata.  Paparan substantif ini, ditegaskan oleh firman Allah bahwa “Tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah” (Roma 13:1).[6]  Karena itu, bila pemimpin Kristen (yang bersifat subordinatif terhadap Sang Pemimpin Agung) mendahulukan hak dan wewenang, pada hakikatnya telah merampas apa yang sebenarnya menjadi hak prerogatif Tuhan.
Secara filosofis, Dr. J. Robert Clinton mengemukakan pendapatnya sebagaimana dikutip oleh Dr. Yakob Tomatala yang menyatakan bahwa kepemimpinan ialah “suatu proses terencana yang dinamis melalui suatu periode waktu dan situasi (suatu atau berbagai situasi) yang di dalamnya pemimpin menggunakan: perilaku (pola/gaya) kepemimpinan yang khusus dan sarana serta prasarana kepemimpinan/sumber-sumber untuk memimpin (menggerakkan/mempengaruhi) bawahan (pengikut-pengikut) guna melaksanakan tugas/pekerjaan (menyelesaikan tugas) ke arah (dalam upaya pencapaian tujuan) yang menguntungkan (membawa keuntungan timbal balik) bagi pemimpin dan bawahan serta lingkungan sosial di mana mereka ada/hidup.[7]” Hal urgen dalam paparan Clinton adalah perencanaan yang dinamis di dalam proses dan waktu dengan mempertimbangkan hal-hal yang berkaitan dengannya.
Tanda utama sebagai seorang pemimpin Kristen, telah menyadari bahwa ia terpanggil khusus berdasarkan kehendak Allah yang berdaulat.  Karena itu, definisi pemimpin Kristen menurut Dr. J. Robert Clinton dan diimpruvisasi oleh Dr. Yakob Tomatala menyatakan, “Pemimpin Kristen adalah seseorang yang telah dipanggil Allah sebagai Pemimpin (pilihan-Nya) yang ditandai oleh: kapasitas memimpin dan tanggung jawab pemberian Allah untuk memimpin suatu kelompok umat Allah (gereja) guna mencapai tujuan-Nya bagi dan melalui kelompok ini.”[8]  Definisi ini mengingatkan kita bahwa jangan pernah menyatakan dan memproklamasikan diri sebagai seorang pemimpin bila tidak memastikan tanda dari Sang PEMIMPIN Agung bahwa kita layak menjadi pemimpin.  Pemimpin yang layak memimpin adalah mereka yang melakukan tugas dengan kualitas dari unit-unit terkecil yang menghasilkan rekaman jejak (track records) yang membahana.

II.    Bagaimana Karakter Dasar bagi Kepemimpinan Kristen?
Yang mencirikan kepemimpinan Kristen adalah kepemimpinan yang diwarnai dan dilandaskan oleh ajaran, nilai, dan prinsip-prinsip Kristen.  Sehubungan dengan ciri khas dalam kepemimpinan Kristen ini, Jonathan L. Parapak mengemukakan secara gamblang bahwa “Pemimpinnya haruslah seorang Kristen dan itu berarti komitmen mengikut Yesus Kristus dan meneladani kepemimpinan Yesus.  Visinya adalah visi penyelamatan, visi transformasi, visi pemeliharaan, visi kasih, visi pemberdayaan, dan visi kekekalan.  Strateginya adalah strategi pemberdayaan, penyelamatan, dan pembaruan. Sistem nilai, ajaran, dan prinsip-prinsip kristiani menjadi pegangan, landasan, acuan, dan arahan utama dalam memilih pola komunikasi, termasuk skenario yang akan digelar.” Semua karakter ini merupakan bagian yang perlu dihadirkan dalam kepemimpinan.
Untuk mewujudkan idealisme yang telah dikemukakan, tidak berarti berjalan tanpa hambatan atau tanpa interupsi.  Di sinilah diperlukan hikmat Allah dengan mengintegrasi segala bentuk kecerdasan yang dibangun atas kepemimpinan Yesus Kristus.  Karakter dan gaya kepemimpinan Yesus Kristus menjadi sumber inspirasi karena Ia menggunakan heart, head, dan hands untuk menggumuli perjumpaan kepemimpinan-Nya dengan dunia nyata. 

III.   Bagaimanakah Kepemimpinan Kristen itu Berproses?
Bila mempertanyakan apa dan bagaimanakah kepemimpinan Kristen itu berproses, tentu tidak akan beranjak dari Alkitab itu sendiri.  Alkitab adalah sumber utama – sumber inspirasi – standar bagi berlangsungnya kepemimpinan.  Tentu saja, tokoh sentral dan teladan bagi kepemimpinan Kristen adalah kepemimpinan Yesus Kristus yang menyatukan segala keperbedaan menjadi satu kesatuan yang kukuh dalam semangat kebersamaan.
Ketika kita mengkritisi secara jujur bahwa kepemimpinan yang sering dipertontonkan oleh para pemimpin (yang notabene pemimpin Kristen) tampaknya sangat jauh dari apa yang diharapkan – jauh dari apa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus yang berbasiskan pada kepemimpinan hamba (servant leadership).  Terasa adanya diskontinuitas, diskoneksi antara teori pada level mimbar dan praktik pada tataran lapangan.  Hal ini merupakan keprihatinan semua pihak.  Pada sisi ini, saya setuju dengan pernyataan Dr. Eka Darmaputera ketika melihat ulah banyak pemimpin tetapi sesungguhnya tidak memimpin.  Ia mengungkapkan keprihatinannya secara terbuka dengan menyatakan, “Menatap itu semua, saya meratap.  Meratap, terutama karena yang saya ratapi itu ternyata tidak meratap.  Seolah-olah, bagi mereka, apa yang mereka lakukan itu lumrah semata ... Pendeta (sebagai pemimpin umat, pen.) memperdayai umat, penginjil sebagai duta berdagang Injil.”[9]   Kritikan pedas berbasis koreksi yang dikemukakan oleh Dr. Eka, mengingatkan para pemimpin Kristen – kita semua – betapa pentingnya menyadari diri sebagai pemimpin umat yang memiliki karakter seperti karakter yang dibangun oleh Yesus Kristus.  Ia meng-hamba bukan me-nuan (tuan)/meraja, Ia melayani bukan dilayani, Ia membagi bukan dibagi, Ia memberi bukan diberi.  Ini sesungguhnya sifat khas yang perlu disikapi dan diejawantahkan ketika kepemimpinan itu berlangsung.

Konklusi
        Kepemimpinan Kristen berproses tidak terlepas dari kepemimpinan yang dibangun di dalam dan atas dasar kepemimpinan Yesus Kristus.  Alasan utama adalah karena kepemimpinan Yesus Kristus adalah kepemimpinan yang mampu menjawab kebutuhan konteks dan hal itu sangat relevan dengan kebutuhan di akhir zaman ini.  Banyak pemimpin tampil tanpa memimpin.  Banyak pemimpin bermunculan tanpa menggunakan hati nurani dan akal budi yang sehat.  Kadang di luar nalar/logika.  Gaya kamuflase, penyamaran, dan berbagai bentuk kekhasan kemunafikan ala orang Farisi pun semakin menunjukkan tanda-tanda mengkuatirkan.  Karena itu, selamat menggumuli untuk menjadi pemimpin berkualitas yang mampu menghadirkan identitas kehidupan Kristen yang original dalam pandangan Allah, hingga pada saatnya ada pujian yang menyatakan, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaKu yang setia ...” (Lukas 19:17).



[1]Catatan lepas.
[2]Dosen Tetap/Wakil Ketua II STT Jaffray Jakarta Periode 2011-2016 dan Dosen Tidak Tetap di beberapa Sekolah Tinggi Teologi yang terakreditasi.
[3]Alan E. Nelson, Spirituality and Leadership: Kerohanian dan Kepemimpinan, Bandung: Kalam Hidup, 2007, hlm. 34.
[4]Benny J. Iskandar, Management According to the Bible: Manajemen Alkitabiah, Jakarta: Kalam Indah Publishing, 2009, hlm. 64-65.
[5]Eka Darmaputera, Kepemimpinan Kristiani: Kepemimpinan dari Perspektif Alkitab, Jakarta: 2003, Unit Publikasi dan Informasi STT Jakarta, 2003, hlm. 3.
[6]Ibid, hlm. 3-4.
[7]Yakob Tomatala, Kepemimpinan yang Dinamis, Jakarta: YT Leadership Foundation, 1997, hlm. 29.
[8]Yakob Tomatala, Ibid., hlm. 45.
[9]Eka Darmaputera, Ibid., hlm. 3.
DOKTRIN ALLAH TRITUNGGAL:
SEBUAH PERSPEKTIF TEOLOGI SISTEMATIKA

oleh Nasokhili Giawa

        Harus diakui bahwa ajaran atau pengajaran tentang Allah Tritunggal adalah ajaran dan pengajaran Kristen yang menyedot banyak energi di sepanjang sejarah kekristenan.  Doktrin ini merupakan doktrin eksklusif dan khas karena didebat, dibantah, disanggah, bahkan dihindari oleh orang-orang yang tidak mampu memahami secara logika dan spiritual sehingga disebut sebagai doktrin yang fundamental bagi iman Kristen. Perdebatan dan bantahan ini sangat terasa pada abad pertama sampai abad ketiga Masehi sehingga melahirkan konfesi-konfesi yang menegaskan tentang eksistensi ketritunggalan itu sendiri. Para tokoh agama, para teolog, dan pemerhati spiritual berupaya memberikan rumusan substantif terhadap ajaran dan pengajaran Allah Tritunggal.  Alhasil, masih menyisakan banyak perdebatan dan pertanyaan. 
Ajaran Tritunggal-Trinitas
        Ajaran atau pengajaran Tritunggal – Trinitas memiliki landasan yang kuat dan yang bersumber dari Alkitab baik Perjanjian Lama (Pertama) maupun Perjanjian Baru (Kedua).  Paul Enns menjelaskan bahwa “memang tidak ada pernyataan yang pasti dan eksplisit di Perjanjian Lama mengafirmasikan Tritunggal, namun tidaklah salah untuk mengatakan bahwa beberapa ayat di dalam Perjanjian Lama menyetujui Tritunggal dan mengimplikasikan bahwa Allah adalah keberadaan yang Tritunggal” (Paul Enns 2004:246).  Meskipun Tertullianus (Bapak Gereja/Teologi Latin) baru menggunakan kata Tritunggal pada abad kedua Masehi, namun barulah pada abad keempat kata tersebut mendapat tempat resmi dalam teologi Kristen.
        Untuk memahami ajaran ini memerlukan sikap kehati-hatian karena dapat menimbulkan ajaran dan pengajaran yang keliru dan cenderung menyesatkan. Adanya pemahaman parsial, dapat melahirkan keyakinan beragam yaitu percaya pada tiga Allah (politeisme) seperti yang diajarkan oleh John Ascunages; atau Allah yang satu menggunakan tiga wajah dalam tubuh yang satu seperti yang diajarkan oleh sebelianisme atau modalisme; atau henoteisme yaitu kepercayaan politeis yang hanya percaya pada satu yang tertinggi seperti tergambar dalam ajaran arianisme.  Dalam perspektif Alkitab, ketiga pandangan ini adalah keliru dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Bagaimana seharusnya kita memahaminya?
Konsep Monoteisme
        Dalam sebuah ulasan biblis, Stephen Tong menyatakan bahwa doktrin Tritunggal termasuk monoteisme, yang percaya kepada Allah Yang Maha Esa.  Dan Allah yang Esa itu mempunyai tiga Pribadi, bukan satu. Pribadi pertama adalah Allah Bapa, pribadi kedua adalah Allah Anak (Yesus Kristus), dan Pribadi ketiga adalah Roh Kudus.  Tiga Pribadi bukan berarti tiga Allah, dan satu Allah tidak berarti satu Pribadi (1990:20).  Jadi, Allah yang diperkenalkan dan disaksikan oleh Alkitab adalah Allah Tritunggal.  Allah yang mempunyai satu substansi Ilahi (Yunani: ousia) dan tiga Pribadi (Yunani: prosopon) yang dipanggil sebagai Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus.  Penggunaan kata penghubung “dan” memperlihatkan eksistensi Pribadi yang berbeda tersebut.  Dalam konteks ini, doktrin Allah Tritunggal mengajarkan kepercayaan monoteisme yaitu percaya kepada satu Allah dan bukan banyak Allah.  Banyak ilustrasi untuk menjelaskan tentang Allah Tritunggal tetapi tidak mampu untuk mengungkapkan misteri dari ketritunggalan tersebut. Diagram kuno dari Tritunggal memberikan pencerahan tentang penjelasan Allah Tritunggal sebagaimana dijelaskan oleh Paul Enns dalam bukunya “the Moody Handbook of Theology”: Buku Pegangan Teologi Jilid 1).  Dari diagram tersebut memperlihatkan bahwa Bapa bukan Anak atau tidak sama dengan Anak.  Anak bukan Roh Kudus atau tidak sama dengan Roh Kudus. Roh Kudus bukan Bapa atau tidak sama dengan Bapa.  Namun, Bapa adalah Allah; Anak adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah yang berada dalam substansi yang esa sebagaimana disaksikan dan dibuktikan oleh Alkitab.
Kata “Echad” dan “Yachid” dalam Hubungan dengan Allah Tritunggal
        Kitab Ulangan menggarisbawahi bahwa “... TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu Esa!” (Ulangan 6:4).  Teks Ibrani, “אֱלֹהֵ֖ינוּ יְהוָ֥ה׀ אֶחָֽד׃“ (Elohenu Yehwah echad) menjelaskan tentang signifikansi dari kata “echad” itu sendiri kepada umat Allah, bangsa Israel yaitu bahwa Allah yang disembah adalah Allah yang Esa. Menurut BibleWorks, kata “echad” digunakan dalam beberapa pengertian: satu, sama, tunggal, masing-masing, sekali ketika.  Kata ini lebih diartikan sebagai gabungan kesatuan atau satu kesatuan.  Konsep ini tidak hanya menjelaskan tentang keunikan dari Allah yang diimani oleh umat Kristen tetapi juga kesatuan dari Allah yaitu kesatuan dari penyatuan.  Dalam kata “echad” mengandung dua unsur atau lebih -- yang disatukan.  Kata lain yang sering dicampuradukkan adalah kata “yachid” sebagaimana digunakan dalam beberapa ayat Alkitab seperti peristiwa penyembelihan anak Abraham yang satu-satunya kepada Allah sebagaimana dikisahkan dalam Kejadian 22:2.  Kata yang digunakan dalam ayat ini bukan “echad” tetapi “yachid” (אֶת־יְחִֽידְךָ֤) yang mengandung pengertian satu-satunya anak yang dipersembahkan atau disembelih. Kata ini tidak mengandung pengertian ‘esa’ seperti yang terdapat pada kata “echad” yang merujuk pada Allah Tritunggal.
Sikap Terhadap Ajaran atau Pengajaran Allah Tritunggal

        Ajaran tentang Allah Tritunggal adalah ajaran Alkitab. Hal ini hanya dimengerti apabila meyakini bahwa segala kebenaran Tritunggal berasal dari Sang Pencipta langit dan bumi serta segala isinya. Bukan dari ciptaan sebagaimana disaksikan oleh Alkitab itu sendiri.  Tentu saja, dalam artikel ini tidak mungkin memberikan penjelasan yang komprehensif tentang Allah Tritunggal namun mengajak pembaca untuk menyikapinya dengan hikmat Allah. Karena itu, saya setuju dengan sikap yang dikemukakan oleh Stephen Tong tatkala mempelajari doktrin Allah Tritunggal, yaitu: Pertama, Allah Tritunggal adalah Allah yang besar, Allah yang terbesar, yang tidak terbatas, maka wajar jika kita menemukan kesulitan besar di dalam mempejalarinya. Kedua, pada saat mempelajari doktrin/ajaran Tritunggal, kita bukan hanya menyelidiki konklusi dogma yang sudah didiskusikan selama berabad-abad, melainkan juga kita sedang belajar dari Dia yang tetap mengawasi dan memimpin hidup kita. Ketiga, doktrin Tritunggal memang sulit dipelajari karena melampaui rasio manusia (supra-rasional).  Hal ini bukan berarti bertentangan dengan rasio (kontra-rasional). Allah di dalam kedaulatan kehendak-Nya telah memberikan batasan kemampuan kepada segenap ciptaan untuk memahami diri-Nya sehingga Ia berkata, “Hal-hal yang tersembunyi ialah bagi TUHAN, Allah kita, tetapi hal-hal yang dinyatakan ialah bagi kita dan bagi anak-anak kita sampai selama-lamanya ...” (Ulangan 29:29).